Diakhir Sunset
Aku terkenal dengan sifat ceriaku yang ditandai tertawaku yang terbahak dan menimbulkan gema dan gelombang suara yang cukup keras di antara suara normal lainnya. Panggil saja aku ica. Pangilan manja yang diberikan kakekku sewaktu ia masih hidup, meskipun aku tak mengingat jelas wajah sang pejuang itu karena umurku yang terlalu kecil untuk menyimpan potongan kehidupan di sekitarku.
Sekarang aku tumbuh dewasa jadi perempuan belia yang cantik menurut ibuku, sang wonder woman di jagad raya. Aku sang anak tua yang dianak bungsukan. Entah apa pemikiran ayahku, yang selalu menggapku kecil, sosok gadis kecil yang merengek akan sepotong kue atau sebungkus permen.
Semakin besar aku semakin mempunyai pemikiran untuk kehidupanku, setidaknya tak seperti dulu, aku yang tak perduli dengan lingkungan sekitarku, apa lagi soal cinta. Tidak di umurku yang sekarang, hati peraasaan yang telah terbentuk karena saatnya terbentuk sudah tiba waktunya untuk aku dan perasaan ini mengenal sosok yang memiliki dan mencari kepingan yang sama.
Ternyata aku menemukan sosok itu, yang awalnya kuanggap sosok itu yang di pikiranku. Semua terjadi karena ketidak sengajaanku meminta perluasan pertemanan di dunia maya dengan sahabatku yang kuliah di sekitaran pulau jawa. Aku yang tertarik akan satu akun, yang memiliki ava terjelek saat itu, lalu aku memfollownya, dengan niatan perluasan pertemanan di dunia maya saja, tak nyata dan takkan pernah nyata. Semua berlanjut, dengan penuh warna dan rasa. Aku kembali tersenyum saat itu, setelah ayahku meninggalkanku dan mereka dengan cepat dan tiba-tiba.
Pembicaraan-pembicaraan berlanjut, dan akhirnya bertemu. Semua yang tak pernah ku bayang kan terjadi, seolah-olah ada yang mengatur pertemuan ini. Aku serasa hidup kembali, karena aku menemukan tempat bercerita kembali selain ayahku.
Entah mengapa, atau bagaimana aku menjelaskannya, tak seperti wanita lainnya yang akan tersipu-sipu saat menerima bunga, aku tak suka jika diberi bunga mawar, bunga melati dan lain sebagainya. Pola pikirku berubah saat aku membaca sebuah artikel aneh dari sebuah majalah online yang waktu itu membahas arti tentang sebuah bunga, dan artikel itu juga menjelaskan, kamu dapat menebak sifat para lelaki yang medekatimu dengan cara dan trik tertentu dari bunga yang mereka berikan. Tapi aku lebih menyukai jika lelaki itu memberiku boneka, khayalanku pun terjadi, sosok maya yang sekarang nyata di hadapanku memberiku sebuah boneka.
Satu hari bertemu dan membuat semuanya berubah, awalnya aku tak menyukai sosok dalam dunia maya ini, karena dia selalu menghujani mention-an di twitterku dengan pertanyaan-pertanyaan yang bisa dikatakan selalu berulang-ulang setiap jamnya tapi sekarang aku sedikit memandanginya dengan pandangan berbeda, entah senyumnya yang begitu manis, atau karena tatapannya yang membuat jantungku kehilangan normal detak, atau pun karena perhatiannya yang membuat aku sedikit nyaman dengan dirinya, aku tidak tau.
Boneka yang cukup besar sekarang menghiasi tempat tidurku yang setiap malamku peluk tanpa alasan, padahal guling-guling yang seukuran tubuhku cukup empuk jika kupeluk. Boneka ini kuberi nama mr. poo, cukup simple kenapa nama ini yang kuberikan kepada panda yang menggigit bambu di mulutnya ini. Nama ini keluar saja di benakku, nama ini berasal dari sebuah nama barber shop yang cukup digemari para pria beranjak remaja, remaja dewasa, dan pria dewasa. Sosok maya yang sekarang nyata ini sebelum kami bertemu dan jalan-jalan ala anak muda biasanya, dia menyempatkan diri untuk merapikan sedikit potongan rambutnya di barber shop itu.
Seminggu berlalu setelah dia merantau kembali ke tempat dia kuliah. Aku merasa semakin dekat, aku mulai merindukannya. Komunikasi tanpa putus, dari mulai hal apapun itu, semua obrolan. Obrolan ringan maupun berat, obrolan serius dan bercanda, obrolan pribadi ataupun biasa. Aku sedikit memahaminya. Dan mulai menyirami bibit yang dia tanamkan saat ia pulang.
Ultahku yang ke 19 tahun, pagi dengan penuh hambatan memulai hari special itu. Saat aku hendak ke kampus ban motor pecah berkali-kali, tapi aku tetap tersenyum karena dia memberikan ucapan dan membuat personal message (pm), simple tapi itu berarti untukku.
Keasyikan yang kurasakan saat pagi, siang dan sore pun seketika hancur, pukul 18.00 wib. Tanpa hujan dari langit, tanpa angin yang berhembus sepoi ataupun badai, dan tanpa ada gemuruh berkeliaran di langit. Dia memberiku kata yang sedikit amat pahit dan sontak aku pun menghilang darinya.
Isakan deras yang kulakukan di hadapan sahabat kampusku. Membuatku sedikit lega. Mereka mencoba memahamiku dan memarahi keputusan yang pernah kubuat dahulu. Mereka membuka pikiranku, untuk berpikir lebih kedepan, ini adalah salah satu dari rasa dunia yang harus kita cicipi, ini pesan mereka.
Kondisiku pun melemah, aku tak kuat menahan rasa sakit hidungku saat makan siang bersama mereka sahabat-sahabatku. Tak sempat aku berlari ke toliet untuk menyembunyikan apa yang terjadi dengan kondisiku saat itu. Darah pun keluar dari hidungku tanpa kusadari, saat aku tertawa sambil menahan rasa sakitku, yang selalu ku remehkan. Mereka langsung terdiam dan aku langsung menyerobot tisu-tisu makan di hadapanku, dengan tarikan nafas yang sangat pedih, aku tetap berusaha untuk bernafas pelan, agar darah yang keluar ini tidak terhirup dan masuk ke paru-paruku. Aku akhirnya harus jujur dengan keadaanku, soal kanker yang bersarang di hidungku. Tapi salah satu dari mereka heran. Jika kalau aku adalah salah satu penderita kanker, mengapa tidak ada pengaruh fisik seperti berat badan turun drastis atau sering pingsan mendadak ataupun mimisan yang tak terlalu sering terjadi padaku, mengapa aku tidak meminum obat-obatan yang begitu banyak.
Aku menjelaskan dengan perlahan kepada mereka yang berada dis